Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Sikap Umar bin Khattab ketika Istri Marah

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah.

Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun? Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya. Ia malah mendapatkan dua kenikmatan; dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu, istri yang shalihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga,

memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia. Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar, kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan, lebih dulu suami maju ke depan, mengaku “akulah yang membuatnya begitu”. Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan; ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi pagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milah cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri; si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya.

Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Senin, 18 Juli 2011

Kafir tanpa sadar


Yang menyebabkan kekafiran, adalah sifat pada Perkataan dan Perbuatan.

Sifat kekafiran terwujud pada keduanya dengan syarat:

Telah dinyatakan dalam dalil syar'i
Contoh : Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari 
 Dalam Shahih Al-Bukhari, kitab Al-iman, 
bab Kufur terhadap keluarga dan Kufrun Duna Kufrin. 
Pada bab tersebut. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, 
bahwa Nabi saw bersabda: Aku diperlihatkan neraka, ternyata 
kebanyakan penghuninya adalah wanita yang pada kufur. 
Beliau ditanya, "Apakah mereka kufur kepada Allah?" 
Beliau menjawab, "Mereka kufur (mengingkari) terhadap 
suaminya dan mereka mengingkari terhadap kebaikan."
(Hadits no.29) Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam 
kitab Al-Haidh dari Abu Sa'id bahwa Nabi saw melewati 
beberapa wanita, maka beliau bersabda: Wahai kaum wanita, 
bersedekahlah, karena sesungguhnya, aku melihat kalian 
yang paling banyak menjadi penghuni neraka. 
Mereka bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?" 
Beliau menjawab, "Karena kalian sering melaknat dan kufur 
terhadap suami."(Hadits no. 3040)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah saw mensifati wanita yang 
tidak memberikan hak suaminya (al-asyir) dan tidak 
mensyukuri kebaikan suami dengan sifat kufur.
Namun qariinah yang menyertai hadits menunjukkan bahwa 
yang dimaksud adalah kufur kecil, bukan kufur besar yang 
menyebabkan keluar dari Islam.
Qariinah yang menyertai hadits itu adalah ketika mereka 
bertanya, "Apakah mereka kufur kepada Allah?" 
Beliau saw mengingkarinya dan dalam hadits satunya 
beliau memerintah 
kaum wanita bersedekah untuk  menghapus kemaksiatan-
kemaksiatan tersebut, sedangkan sedekah itu hanya berguna 
bagi orang yang beriman (beragama Islam), 
berdasarkan sabda Rasulullah saw:
Dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagai mana 
air memadamkan api.
(Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dan dia mengatakan, 
"Hadits ini hasan shahih.")
Padahal, sedekah dari orang kafir itu tidak diterima, tidak 
pula menghapus dosanya.
Ini berdasarkan firman Allah:
Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik 
(QS. An-Nisa: 48)
Maka, hal itu menunjukkan bahwa mereka beriman.
Meskipun, kemaksiatan mereka disifati sebagai kekufuran, 
namun ini adalah kufur kecil. 
Contoh lain,  adalah sabda Rasulullah saw: 
Mencela seorang Muslim merupakan salah satu bentuk 
kefasikan, sedang membunuhnya merupakan salah satu 
bentuk kekafiran.
Juga sabda Rasulullah saw: Janganlah kalian kembali kafir 
sepeninggalku, yaitu dengan saling membunuh satu sama 
lain.
Kedua hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Beliau menyebut membunuh orang muslim dengan 
kekafiran, begitu pula dengan saling membunuh. 
Sedangkan nash–nash lain menyatakan 
bahwa orang yang membunuh namun sesuai syar'i tidaklah 
kafir. Ini berdasarkan firman Allah: Hai orang-orang yang 
beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan 
orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang 
merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. 
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan 
dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) 
mengikuti dengan cara yang baik,
dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) 
kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). 
Yang demikian itu adalah suatu keringanan 
dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. 
Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu,
maka baginya siksa yang sangat pedih[111].
(QS. Al-Baqarah: 178)[111]. 
Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. 
Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh 
mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu 
dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. 
Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya 
dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang 
membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, 
umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. 
Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan 
hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, 
atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, 
maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat 
dia mendapat siksa yang pedih. Dalam suatu riwayat 
dikemukakan bahwa ketika Islam hampir disyariatkan, 
pada jaman Jahiliyah ada dua suku bangsa Arab 
berperang satu sama lainnya. Di antara mereka ada yang 
terbunuh dan yang luka-luka, bahkan mereka membunuh 
hamba sahaya dan wanita. Mereka belum sempat 
membalas dendam karena mereka masuk Islam. 
Masing-masing menyombongkan dirinya dengan jumlah 
pasukan dan kekayaannya dan bersumpah tidak ridho 
apabila hamba-hamba sahaya yang terbunuh itu tidak 
diganti dengan orang merdeka, wanita diganti dengan pria. 
Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 178) yang 
menegaskan hukum qishash.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber 
dari Sa'id bin Jubair.) 
Demikianlah, Allah menetapkan persaudaraan iman 
antara orang yang membunuh dan wali dari yang terbunuh. 
Demikian pula dalam keadaan saling berperang 
sebagai mana firman Allah: 
Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman 
ituberperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! 
Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang 
lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu 
perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. 
Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya 
menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; 
sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang 
berlaku adil. (QS. Al-Hujurat: 9) 
Demikianlah, Allah menamakan mereka dengan 
kelompok beriman, meskipun mereka saling berperang. 
Ini menunjukkan bahwa kekafiran yang disebut dalam 
hadits-hadits di atas tidaklah menghapuskan keimanan 
sehingga kekufuran yang dimaksud adalah kufur kecil 
atau kufrun duna kufrin. 
Insyaallah bersambung...
(Sumber : Aziz, Syaikh Abdul Qadir bin Abdul.
Kafir Tanpa Sadar : Seringkali kekafiran terjadi tanpa 
kita sadari. Kapankah itu? Solo : media Islamika, 2006)

Minggu, 10 Juli 2011

Istri Yang Dianggap Durhaka

Sumber : http://ratnafitria-bandung.blogspot.com/

Sebuah Introspeksi

Apakah Anda termasuk Istri yang durhaka kepada suami?

Apabila dipanggil oleh suaminya ia tidak datang.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:“Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidur. ia tidak datang nescaya malaikat melaknat isteri itu sampai Subuh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Membantah suruhan atau perintah suami.
Sabda Rasulullah SAW: ‘Siapa saja yang tidak berbakti kepada suaminya maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia.”

Bermuka masam terhadap suami.
Sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya berarti ia dalam kemurkaan Allah sampai ia senyum kepada suaminya atau ia meminta keredhaannya.”

Jahat lidah atau mulut pada suami.
Sabda Rasulullah SAW: “Dan ada empat golongan wanita yang akan dimasukkan ke dalai Neraka (diantaranya) ialah wanita yang kotor atau jahat lidahnya terhadap suaminya.”

Membebankan suami dengan permintaan yang diluar kemampuannya.

Keluar rumah tanpa izin suaminya.
Sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya.” (Riwayat Al Khatib)

Berhias ketika suaminya tidak disampingnya.
Maksud firman Allah: “Janganlah mereka (perempuan-perempuan) menampakkan perhiasannya melainkan untuk suaminya.” (An Nur 31)

Menghina pengorbanan suaminya.
Maksud Hadis Rasulullah SAW: “Allah tidak akan memandang (benci) siapa saja perempuan yang tidak berterima kasih di atas pengorbanan suaminya sedangkan dia masih memerlukan suaminya.”

Mengijinkan masuk orang yang tidak diijinkan suaminya ke rumah
maksud Hadis: “Jangan ijinkan masuk ke rumahnya melainkan yang diijinkan A suaminya.” (Riwayat Tarmizi)

Tidak mau menerima petunjuk suaminya.
Maksud Hadis: “Isteri yang durhaka hukumnya berdosa dan dapat gugur nafkahnya ketika itu. Jika ia tidak segera bertaubat dan memint ampun dari suaminya, Nerakalah tempatnya di Akhirat kelak. Apa yang isteri buat untuk suami adalah semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah SWT”

Rabu, 06 Juli 2011

KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB ISTRI


Tanggung Jawab Istri pada Diri Sendiri

Diantara tanggung jawab istri kepada diri sendiri diantaranya adalah :

1. Menuntut ilmu syar’i

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

Yaitu :

- Ilmu tentang prinsip-prinsip ‘aqidah dan keimanan (Rukun Iman)

- Ilmu tentang apa-apa yang diwajibkan dalam rukun Islam
:syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.

- Ilmu-ilmu penunjang yang bermanfaat lainnya.

Seorang ibu rumah tangga wajib
menuntut ilmu (agama),seperti: bagaimana menjaga sikap, tabiat dan kewajibannya dalam keluarga, mengetahui tentang pembatal-pembatal syahadat, wajib mengetahui bagaimana cara thaharah dan sholat yang benar, dan yang lain sebagainya. Tidak boleh terjadi pada seorang ibu bahwa ia tidak mengetahui tentang hukum-hukum haidh, padahal haidh adalah sesuatu yang rutin mendatanginya. Banyak terjadi bahwa seorang istri/wanita/ibu yang alergi dengan ilmu agama, buku-buku agama (bahkan Al-Qur’an), ceramah-ceramah agama dan ilmu agama lainnya. Hal itu disebabkan karena ke-egoisannya, hawa nafsunya, sudah merasa benar menurut dirinya sendiri sehingga tidak pernah mau menerima nasehat (koreksi)dari orang lain karena tidak pernah mau tahu bahwa sikap dan perbuatannya salah, dan tidak mau menerima kebenaran dari sumber manapun (bahkan dari A-Qur’an dan Sunnah) selain dari logikanya sendiri (hanya yang cocok dengan logikanya saja).

Bagaimana seorang ibu rumah tang
ga bisa menuntut ilmu(agama) di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga ? Hal yang pertama bahwa ia harus menumbuhkan perasaan butuh dan cinta kepada ilmu. Jika seseorang telah mampu menumbuhkan perasaan itu pada dirinya, maka ia akan memanfaatkan semua kesempatan dimana ia bisa memperoleh ilmu, baik dalam majelis-majelis ilmu atau membaca buku-buku. Dalam seminggu, usahakanlah untuk dapat bermajelis ilmu minimal satu kali. Bisa ia menghadiri majelis-majelis ilmu secara khusus, atau bermajelis dengan suaminya untuk saling membacakan satu pembahasan dalam buku agama. Selain itu, ia bisa memanfaatkan beberapa waktu luang dengan membaca buku agama saat kesibukan belum menderanya, misalnya 15 – 20 menit sebelum sholat shubuh;atau 15 – 20 menit setelah ‘isya’ di saat anak-anak telah tidur di pembaringannya.

2. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Adalah menjadi hal yang mutlak lagi wajib untuk mengamalkan ilmu. Amal adalah buah ilmu. Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, ia laksana tumbuhan yang tidak memberikan manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya. Ilmu bisa menjadi pembela atau malah jadi bencana bagi diri kita sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu” (HR. Muslim)

Contoh mudah yang bisa kita lakukan adalah ketika kita tahu bagaiamana cara wudhu yang benar dari penjelasan Ustadz atau hasil membaca buku; maka dengan tidak menunda-nunda kita praktekkan pada diri kita jikalau mau melaksanakan sholat. Jika kita tahu tentang bahaya syirik, maka dengan segera kita bersihkan diri dan rumah tangga kita dari hal-hal yang berbau syirik seperti
: menjauhi ritual-ritual yang mengarah ke syirik,membuang segala macam jimat, rajah, gambar makhluk hidup, atau benda pusaka keramat peninggalan leluhur (yang tentunya harus dikomunikasikan secara bijaksana jika itu tradisi atau milik suami, tetapi kewajiban menjauhi syirik tetap paling utama). Dan yang lain sebagainya.

Tanggung Jawab Istri pada Suami

Tanggung jawab istri kepada suami terkait erat dengan pemenuhan hak-hak suami oleh istri. Harus menjadi satu pemahaman bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya di rumahnya. Allah swt berfirman : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisaa’ : 34).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan keagungan hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya dengan sabdanya : “Gambaran hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya adalah seandainya pada kulit suaminya itu ada borok (luka), lalu dia (istri) menjilatinya, maka dia belum benar-benar memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Abi Syaibah 4/2/303 no. 17407; hasan ).

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya” (HR. At-Tirmidzi).

Ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu faktor yang akan membawanya masuk surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai” (HR. Ibnu Hibban , shahih).

Beberapa kewajiban istri yang harus dipenuhi kepada suaminya antara lain adalah :

1. Patuh kepada perintah suami

Hushain bin Mihshan mengkisahkan : Bahwasannya bibinya pernah mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam untuk satu keperluan. Setelah menyelesaikan keperluannya, maka Nabi berkata kepadanya : ‘Apakah engkau bersuami ?’. Aku menjawab : ‘Ya’. Beliau melanjutkan : ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya ?’. Aku menjawab : ‘Aku tidak pernah membantahnya/menolaknya kecuali pada perkara yang tidak sanggup aku lakukan’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Maka perhatikanlah sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia (suamimu) adalah surga dan nerakamu” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang model wanita yang paling baik, maka beliau menjawab : “Dia dalah seorang wanita yang patuh saat suaminya menyuruhnya, menarik saat suaminya memandangnya, menjaga kemuliaan suami dengan memelihara kehormatannya sendiri, dan mengurus harta suami” (HR. An-Nasa’i ,shahih).

Catatan : Taat ini dengan syarat : Hanya dalam hal yang ma’ruf
bukan dalam hal yang berbau syirik dan maksiat.

“Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya boleh dilakukan dalam kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, seorang istri tidak boleh taat kepada suaminya jika ia menyuruh untuk membuka jilbab, menemani seorang laki-laki yang bukan mahram tanpa ada suaminya, berbohong, dan lain-lain. Namun bukan pula berarti ia membatalkan ketaatannya secara keseluruhan. Ia tetap wajib taat pada hal-hal yang mubah dan yang disyari’atkan.

2. Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali setelah mendapat ijin dari suami.

Allah berfirman : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu” (QS. Al-Ahzab : 33).

Tinggal di dalam rumah adalah hukum asal bagi seorang wanita. Ia tidak boleh keluar melainkan dengan sebab dan syarat. Sebabnya adalah karena hajat, dan syaratnya adalah ijin dari suami, berpakaian syar’i, tidak memakai wangi-wangian, dan yang lainnya (yang akan dijelaskan kemudian).

Untuk hal-hal yang sifatnya rutinitas dimana ia telah mendapatkan ijin dari suami secara umum, maka ia boleh keluar tanpa seijin suaminya (walau meminta ijin tetap lebih baik). Misalnya : keluar rumah untuk belanja di warung, menyapu halaman, dan lainnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan salah satu sebab mengapa wanita tinggal di dalam rumah : “Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka akan dibanggakan oleh syaithan” (HR. At-Tirmidzi).

Hingga dalam permasalahan ibadah (sholat di masjid), rumah tetap lebih baik bagi seorang wanita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi sholat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” (HR. Abu Dawud)

3. Menerima ajakan suami.

Ini hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun istrinya tersebut menolak (tanpa udzur yang dibenarkan syari’at) maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh tiba” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Tidak memasukkan seseorang ke dalam rumah kecuali dengan seijin suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya kalian (para suami) memiliki hak yang harus dipenuhi mereka (para istri), agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai” (HR. Muslim).

“Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin suaminya tersebut” (HR. Muslim).

Larangan ini berlaku untuk orang-orang yang memangsuaminya tidak meridhainya. Namun bila orang tersebut termasuk orang-orang yang diridhai – semisal kaum kerabat -, maka ia diperbolehkan menerimanya masuk ke rumahnya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Jika orang/tamu tersebut laki-laki bukan termasuk mahram (semisal : teman kerja suami atau tetangga), maka ia diperbolehkan untuk menerima dengan catatan aman dari fitnah dan menghindari khalwat (berdua-duaan). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

5. Tidak bersedekah dengan harta suami kecuali mendapat ijin darinya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali seijin suaminya tersebut” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

6. Berterima kasih kepada suami dan tidak mengingkari kebaikannya, serta memperlakukan suami dengan baik.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya, padahal ia tidak mungkin lepas dari ketergantungan padanya” (HR. Nasa’i)

Berterima kasih ini tidak hanya sebatas lisan, tapi terwujud pada penampakan rasa bahagia dan nyaman selama mendampingi suami dan melayani kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya, tidak mengabaikannya, tidak mengeluh dengan segala kondisi yang dialami bersamanya, dan yang lainnya.

7. Tidak mengungkit-ungkit kebaikannya kepada suami, jika kebetulan dia menafkahi suami dan anak-anaknya.

Adakalanya seorang suami diberi cobaan berupa sakit, cacat, atau yang semisalnya sehingga ia tidak bisa memberi nafkah sebagaimana mestinya; yang dengan itu istri menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Haram hukumnya mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Allah telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al-Baqarah : 264).

8. Selalu menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wanita mana saja yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada masalah yang berarti (menurut kacamata syari’at), maka diharamkan baginya wangi bau surga” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah , Ahmad).

Dan ingatlah wahai para wanita bahwa engkau telah Allah jadikan salah satu perhiasan dunia. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Tanggung Jawab Istri pada Anak

1. Menyusui anak hingga usia dua tahun.

Allah swt berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Baqarah : 233).

2. Mengasuh, memperhatikan, dan memelihara anak dengan nafkah
yang baik (halal) yang diberikan oleh suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada Hindun radliyallaahu ‘anhaa: “Ambillah dengan baik (dari harta suamimu) sebatas mencukupi keperluanmu dan anakmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Mendidik anak dengan pendidikan yang baik dan Islami.

Hal utama yang harus diberikan dan diperhatikan adalah pendidikan agama, sebab pendidikan ini merupakan dasar yang akan membentuk tingkah laku anak di kemudian hari. Penanaman aqidah tauhid yang kuat adalah mutlak diberikan. Anak harus tahu kewajiban dan tugas mengapa ia dilahirkan di muka bumi, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Juga dengan penanaman prinsip-prinsip keimanan dalam rukun iman. Kemudian diikuti dengan penanaman kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam yang lain seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Dari konsep pembangunan anak yang beriman dan beramal shalih, tentu saja harapan kita kelak ia menjadi sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi kita di akhirat. Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu : shadaqah jariyyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Wallahu ta'ala a’lam

Rabu, 18 Maret 2009

SURGA YANG DIPEROLEH ISTRI KARENA SUAMI

From: Siti Latifah

Ketika Rosulullah saw. memberitahukan bahwa istri Al-Hathab, seorang pencari kayu akan menjadi penghuni surga, ramai-ramailah sahabat mencari tahu.
Apakah yang ada diperbuat istri Al-Hathab ? Dan apakah kelebihan istri si pencari kayu itu sehingga membuatnya menjadi calon penghuni surga !


Berita itu menimbulkan tanya dan cemburu pada istri-istri kaum muslimin lainnya.
Kemudian istri Al-Hathab menceritakan mengenai dirinya : “Suamiku adalah seorang laki-laki yang pekerjaannya mencari kayu di gunung, memotong-motongnya lalu memikulnya. Ia lalu membawanya ke pasar untuk dijual. Suamiku akan kembali ke rumah dengan membawa kebutuhan bagi keluarga kami. Letih dan capek ia rasakan. Badannya ditimpa panas dan tenggorokannya disergap rasa haus yang tiada terkira, hampir-hampir tenggorakannya terbakar karena panasnya menahan haus. Betapa payahnya keadaan suamiku.


Karena itu aku menyediakan air dingin sebagai penyejuk dahaganya. Ia datang dan segera mendapatkan air yang kusediakan. Setelah itu aku siapkan makan siang, barang-barangnya kuambil dan kurapihkan. Saya menyambut kedatangan suamiku dengan berdiri, memakai pakaian yang paling indah yang kumiliki. Kusambut dia dengan segenap kerinduan seolah-olah telah kunantikan sekian lama. Begitu masuk rumah kusambut dia seperti mempelai laki-laki yang begitu lama kunantikan. Saya serahkan seluruh diri saya kepadanya. Kalau suamiku ingin istirahat dan bersenang-senang, kubantu dia ; kalau ia menginginkan diriku, kurebahkan badanku diantara kedua tangannya, bagai anak kecil yang bersuka ria dengan ayahnya !”.

Sahabat-sahabat itu sangat terharu mendengar tuturan istri Al-Hathab tersebut. Dengan sikap yang demikian, tak mustahil keletihan dan kepenatan Al-Hathab akan segera sirna atas hiburan dan sambutan dari istri yang demikian mulia. Sikap indah dari istri yang mukminah lagi sholihah ini merupakan obat penawar bagi suami yang pulang kerja mencari nafkah. Rosulullah saw. Bersabda : “Itulah sikap para bidadari-bidadari dunia yang pasti akan menjadi bidadari surga kelak di akhirat !”

Pernyataan Rosulullah saw. bahwa wanita seperti istri Al-Hathablah yang sangat pantas mendapat surga kelak di akhirat memiliki hikmah yang tinggi ; terkandung suatu pelajaran didalamnya mengenai dustur (tata cara) berumah tangga secara islami. Nilai-nilai yang digariskan dalam kehidupan keluarga.

dikutip dari
Mohamad Joban

Jumat, 12 Desember 2008

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak

Oleh : Jalaluddin Rakhmat

Waktu itu, dini hari, di sebuah rumah sederhana. Rahman dan isterinya
terbangun karena mendengar derak pintu terbuka. Dipasangnya telinganya
tajam-tajam. Mereka yakin suara itu berasal dari kamar anaknya, yang berusia
tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar seperti berjingkat-jingkat,
bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Mereka mendengar
suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan membasuh.

Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup, karena
dinihari yang hening, mereka mendengar suara
bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya sedang melakukan salat malam. Tiba-tiba
keduanya merasakan airmata hangat membasahi pipinya.

Kisah ini disampaikan kepada saya oleh Pak Rahman, ketika saya masih
menjadi guru mengaji anak-anak di kampung
tempat tinggal saya. Karena kejadian itu, kedua orang tua itu mulai
melakukan salat dan meninggalkan perjudian populer- lotto. Ini terjadi
kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Saya mendengar kejadian lain yang
hampir mirip dengan itu dua atau tiga tahun yang lalu.

Kali ini, saya menjadi direktur SMU (Plus) Muthahhari. Seorang ibu, orang
tua murid yang baru lulus, datang dari Banten. Ia
meminta bantuan saya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah meyakinkan
anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya
berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan
jalan.

Di tengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku
anaknya setelah masuk sekolah kami. Waktu
pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga-tetangganya yang
miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya,
ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat menerima
uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak
tetangganya. Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu, kata
Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan airmata.

Kedua kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara
spiritual. Keduanya terjadi jauh sebelum konsep
kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Karena saya tidak ingin
bertele-tele mendiskusikan apa yang disebut SQ, dan hanya untuk menyamakan
pengertian SQ, saya akan mengutip lima karakteristik orang yang cerdas
secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate
Concerns:

(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;
(2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;
(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;
(4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan
masalah;
(5) dan kemampuan untuk berbuat baik

Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti
kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk
ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia
memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan
dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada
apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Anak Pak Rahman pada kisah
pertama memiliki kedua ciri ini, terutama ketika ia menyampaikan doa-doa
personalnya dalam salat malamnya.

Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita
meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad
pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang
mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka
cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria,
gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya
ditanyakan pertanyaan yang sama, Apa yang sedang Anda kerjakan? Yang
cemberut menjawab, Saya sedang menumpuk batu. Yang ceria berkata, Saya
sedang membangun katedral! Yang kedua telah mengangkat pekerjaan menumpuk
bata pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya
secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna
kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti
teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan
penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi.
Ketika Rahmat diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup
menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia
yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada
Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan
berfirman, Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan
berikan kepadanya jalan-jalan Kami? Bukankah Heinrich Heine memberikan
inspirasi dengan kalimatnya Den Menschen macht seiner Wille groß und klein?
Rahmat memiliki
karakteristik yang keempat.

Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang kelima: memiliki rasa
kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. The fifth and final component
of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous
behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to
display compassion and wisdom, tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau
mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang
dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan.
Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad
saw, Amal paling utama ialah engkau masukkan
rasa bahagia pada sesama manusia.


Kiat-kiat mengembangkan SQ anak

Dengan pengertian di atas, berikut ini saya sampaikan secara singkat
kiat-kiat untuk mengembangkan SQ anak-anak kita:
(1) Jadilah kita gembala spiritual yang baik,
(2) bantulah anak untuk merumuskan missi hidupnya,
(3) baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,
(4) ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,
(5) diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,
(6) libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,
(7) bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,
(8) bawa anak untuk menikmati keindahan alam,
(9) bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan
(10) ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.


Jadilah gembala spiritual.

Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang
yang SUDAH mengalami kesadaran
spiritual juga. Ia sudah mengakses sumber-sumber spiritual untuk
mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas yakni
karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan
kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya.

Spriritual intelligence is the faculty of our non-material dimension- the
human soul, kata Khalil Khavari. Ia harus sudah
menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada
orang-orang di sekitarnya sebagai orang yang berjalan dengan membawa cahaya.
(Al-Quran 6:122) Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun
menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya.
Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and
not because of them, masih kata Khavari. Bayangkanlah masa kecil kita
dahulu. Betapa banyaknya
perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai
orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh
jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.

Rumuskan missi hidup.

Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan
paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Kepada saya
datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta bantuan
saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di
UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa
merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur.

Berikut ini adalah cuplikan percakapan kami:

- Saya ingin belajar, Pak
= Untuk apa kamu belajar?
- Saya ingin mendapat pekerjaan.
= Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu
pekerjaan. Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar.
- Saya ingin belajar, Pak
= Untuk apa kamu belajar?
- Saya ingin mendapat pengetahuan
= Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggallah
bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk
membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang
sekolah.
- Tetapi saya ingin masuk sekolah.
= Untuk apa kamu masuk sekolah?
- Saya bingung, Pak.

Saya sebenarnya ingin mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia.
Dengan menggunakan teknik what then, señor
dalam anekdot Danah Zohar, kita dapat membantu anak untuk menemukan
missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau jadi orang pintar.
Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku, aku akan
memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku
akan punya duit banyak.Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin
bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya.
Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.

Baca Kitab Suci.

Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita.
Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan
kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar islam, yang
memasukkan kembali dimensi
ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal.
Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual
barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan
tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah
pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran.
Pada suatu hari, bapaknya berkata, Bacalah Al-Quran seakan-akan ia
diturunkan untukmu! Setelah itu, kata Iqbal, aku merasakan Al-Quran
seakan-akan berbicara kepadaku.

Ceritakan kisah-kisah agung.

Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. Manusia,
kata Gerbner, adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup
berdasarkan cerita yang dipercayainya. Para Nabi mengajar umatnya dengan
parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-Attar, Rumi, Sadi
mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack
Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya.
Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita
bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Saya senang berdiskusi
dengan anak-anak saya bukan hanya kisah-kisah Islam saja, juga cerita-cerita
dalam Alkitab, kisah-kisah dari Cina dan India, mitologi Yunani,
dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, sejak kisah-kisah
pewayangan di Jawa sampai dongeng-dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya
membaca cerita-cerita Andersen, fabel-fabelnya Jean de la Fontaine, sampai
Crayon Sin Chan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya
bagikan pelajaran itu pada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh isteri
saya, maupun oleh isteri-isteri orang lain (misalnya, yang saya ajar di
sekolah saya).

Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah.

Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk
pada Rencana Agung Ilahi (divine grand Design). Mengapa hidup kita
menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas,
katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merekah
setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air
susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk
membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu
keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu
mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita
dapat menyebut asma-Nya.

Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.

Kegiatan agama adalah cara praktis untuk tune in dengan Sumber dari Segala
Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya,
strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan
sebagainya. Anda
pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola
lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat
manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk
itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak
menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah
dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban.
Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan
Mahasayang!

Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional.

Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas; fakultas
untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk
mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika
kita berkata masakan ini pahit, kita sedang menggunakan indra lahiriah
kita. Tetapi ketika kita berkata keputusan ini pahit, kita sedang
menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya
dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ).
SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu
ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata pada sentuhan cinta
semua orang menjadi pujangga, kita dapat berkata pada sentuhan puisi semua
orang menjadi pecinta.

Bawa anak untuk menikmati keindahan alam.

Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita ter-alienasi dari alam.
Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam
yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita
sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam
yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak
gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang
berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan
angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil
mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus
bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita
dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.

Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita.

Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke
kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan
Dia. Ia bermunajat, Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau. Tuhan berfirman,
Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang
yang hancur hatinya. Di sekolah kami ada program yang kami sebut sebagai
spiritual camping. Kami bawa anak-anak ke daerah pedesaan, di mana alam
relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari, mereka mengisi waktunya
dengan beribadat
dan tafakkur. Siang hari mereka melakukan action research, untuk mencari dan
meneliti kehidupan orang yang paling miskin di sekitar itu. Seringkali,
ketika mereka melaporkan hasil penelitian itu, mereka menangis. Secara
serentak, mereka menyisihkan
uang mereka untuk memberkan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk
melakukan kegiatan sosial juga.

Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Saya teringat cerita nyata dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens.
Ia bercerita tentang seorang anak yang catatan
kejahatannya lebih panjang dari tangannya. Anak itu pemberang, pemberontak,
dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan-
kawannya Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya
untuk mengumpulkan makanan untuk
disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin
kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang
memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka
mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja,
anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih.
Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik rajin, penyayang, dan
penuh tanggung jawab.

==========
[6:54]... kataba rabbukum 'ala nafsihi rahmah...

Allahumma a'inni 'ala dzikrika wasyukrika wahusni 'ibadatika

Jumat, 08 Agustus 2008

Wasiat Nabi S.A.W

Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah
bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w.
Diantara isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut
petikannya ;

Aku berkata kepada Nabi S.a.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku."
Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah,
karena ia adalah pokok segala urusan." "Ya Rasulullah, tambahkanlah."
pintaku.

"Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada
Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan
simpananmu dilangit."
"Ya Rasulullah, tambahkanlah." kataku.
"Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan
hati dan menghilangkan cahaya wajah."
"Lagi ya Rasulullah."
"Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."
"Lagi ya Rasulullah."
"Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."
"Tambahilah lagi."
"Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya."
"Tambahlah lagi untukku."
"Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui
dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai
kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui
manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)."

Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu
Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau
bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan
diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang
yang baik akhlaqnya."

Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada
salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan
mengamalkan wasiat beliau. Wallahu A`lam.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Jumat, 13 Juni 2008

SHALAT

Dikisahkan ada seorang manusia yang bertemu dengan
setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya,
akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali
persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang
itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil
tersenyum bergumam,
"Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak
mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin,
" Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu
dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan
mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu
ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai
gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari
wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang
mengingat-ngingat sesuatu. Dan akhirnya ketika
dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan
shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya
tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya
yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan,
"Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"
Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau
ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji
akan menjadi sahabat ?".
"Aku takut !", jawab setan dengan suara gemetar.
"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali
membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak
disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi
engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali
membangkang perintah-Nya. Tidak terbayangkan olehku
bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan
sambil ngeloyor pergi. *

( Kisah diatas diambil dari buku "Tutur bersayap" )

Selasa, 13 Mei 2008

Sang Pemburu Jannah


Bara' bin Malik r.a

Lelaki perkasa ini tidak lain adalah saudara dari Anas bin Malik r.a,
khodim Rasulullah S.a.w. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga
sudah sudah tidak diragukan lagi. Pernah dalam satu perang tanding
beliau berhasil menghabisi seratus jagoan dari kaum kafir. Baginya,
memasuki jannah dengan mati syahid adalah dambaan yang selalu dicarinya,
karena itu sejak perrang Uhud beliau tidak pernah absen menyertai
Rasulullah S.a.w dalam setiap pertempuran.

Ketika Abu Bakar r.a berkuasa, banyak terjadi pembangkangan, antara lain
pembangkangan Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai Nabi. Segera Abu
Bakar memberangkatkan pasukan menggempur pasukan Musailamah yang
tangguh.
Pertempuran antar dua pasukan pun terjadi dengan serunya di Yamamah.
Bara` r.a seperti biasanya segera mengamuk menebas setiap musuh yang
berada didekatnya. Namun kekuatan musuh yang cukup solid hampir membuat
semangat tempur kaum muslimin mengendor. Segera Bara' berteriak dengan
suara yang lantang, " Wahai manusia! Demi Allah, tidak ada lagi bagiku
Madinah..! yang ada hanyalah jannah!".Lalu beliau pukul kudanya melesat
menyerbu ketengah-tengah kumpulan musuh. Melihat hal itu, sontak
semangat kaum muslimin kembali bangkit dan segera menyusul Bara'
menggempur musuh dengan satu tekad, mati menuju jannah. Akibatnya
pasukan Musailamah terdesak dan mundur memasuki benteng pertahanannya.

Untuk membobol pintu benteng, Bara' berinisiatif agar kawan-kawannya
melemparkan dirinya melewati atas benteng kemudian nanti beliau yang
akan membuka pintunya. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Usul
itupun dilaksanakan. Setelah beliau berhasil masuk segera pintu benteng
dibukanya setelah sebelumnya harus menghabisi sepuluh nyawa pasukan
penjaga benteng. Bagaikan air bah pasukan muslimin segera memasuki
benteng dan menghabisi perlawanan Musailamah sang pendusta. Pada
peperangan ini Bara' harus merakan lebih dari 80 luka akibat serangan
lawan.

Kini, Bara' telah berada dalam pertempuran lain, perang dengan pasukan
penyembah api, satu diantaranya adi daya kekafiran saat itu; pasukan
Persia dengan segala perlengkapannya. Perang-pun berkecamuk dengan
dasyatnya, dan pasukan Persi ternyata menunjukkan kelasnya sebagai
pasukan elite. Mereka berhasil mendesak tentara muslimin. Maka
orang-orangpun berkata kepada Bara' bin Malik, " Wahai Bara',
sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda kepadamu, sesungguhnya jika
engkau memohon kepada Allah S.W.T pasti Dia mengabulkan, maka berdo`alah
kepada-Nya untuk kehancuran musuh ".Bara' lalu berdo`a memohon
kehancuran pasukan musuh dan agar dirinya mendapat syahid bertemu dengan
Nabi-nya yang mulia. Allah mengabulkan doa`nya sehingga kaum muslimin
berhasil melumpuhkan lawan, dan Bara' pun memperoleh apa yang selama ini
dicita-citakannya, syahid dijalan Allah. Bara' ...betapa wangi merah
darahmu...kamipun rindu menyusulmu. Wallahu a`lam.

(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah dan Rijal Khaula Rasul).
Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Selasa, 13 Maret 2007

Utang

Oleh: Mahbubah Aseri

Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu'lu' Al Majusiy
dan beliau mengira bahwa kematian sudah dekat maka beliau memanggil
putranya Abdullah. Kepada anaknya Umar berkata: "Periksalah, berapa
jumlah utang yang harus kubayar?"

Berkata Abdullah: "Maka beliau pun menghitung dan mendapatkan bahwa
hutangnya sejumlah 86.000 dirham" (1 dirham = 2,975 gram perak).
Kemudian beliau berkata: "Apabila keluarga Umar tidak mampu untuk
melunasinya maka mintalah kepada Bani 'Adiy, dan apabila masih belum
cukup juga maka mintalah kepada Quraisy, dan jangan minta kepada
selain mereka".

Demikianlah, potret seorang penguasa yang adil, penakluk dua negara
adidaya ketika itu, Romawi dan Persia. Betapa menakjubkan, beliau
justru memiliki banyak utang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dan
hal itu baru terekspos ketika beliau sudah mendekati ajal. Itulah
bukti betapa Umar sangat menjaga diri dari aji mumpung, memanfaatkan
kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.

Kejadian itu sungguh kontradiktif dengan para penguasa di zaman ini
yang hidup mewah, akan tetapi meninggalkan utang yang banyak bagi
rakyatnya. Kekuasaan yang diberikan tidak ditujukan untuk
menyejahterakan rakyat tetapi rakyatlah yang harus menanggung derita.

Lihatlah hasil pencatatan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara (KPKPN). Para penguasa memiliki aset miliaran. Mereka hidup
bergelimang dolar. Sebaliknya rakyat, untuk memenuhi kebutuhan perut
saja sulit. Ditambah lagi dengan utang negara yang belum tentu bisa
lunas sampai tujuh turunan.

Belum lagi pajak yang mencekik leher, biaya hidup yang semakin
melambung tinggi, fasilitas umum yang jelek, jumlah pengangguran yang
sangat banyak, kejahatan di semua lini dan lain-lain. Padahal
pemilikan umum dan pemilikan negara begitu luar biasa apabila dikelola
untuk kepentingan rakyat. Negeri kita adalah negeri yang sangat kaya
akan sumber daya alam dan manusia. Tetapi rakyat di negeri ini bagai
ayam yang kelaparan di lumbung padi.

Sungguh tercela penguasa yang hanya mementingkan pribadi dan kroninya,
serta menipu rakyatnya, padahal Rasulullah SAW telah bersabda:
"Tidaklah di antara hamba Allah yang diberikanNya kekuasaan dan dia
mati dalam keadaan menipu rakyatnya kecuali Allah mengharamkan atasnya
masuk sorga." (Muttafaq alaih)

Sumber : Harian Republika

Kamis, 11 Maret 2004

DOA ORANG TUA

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.

Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
Atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
Jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
perkenan-Mu,
ya Allah

Sebab, hanya Engkaulah
Yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan
berlipat
ganda.

Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,

Sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
Di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,

Ampunan-Mu serta
Rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah
Yang memiliki Karunia Maha Agung,
Serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.

**********************************************
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa
Karena kedurhakaan kita,
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya,
Airmatanya, keringatnya.


Istighfar, istighfarlah

Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat
orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya,
atau
Yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya
didahulukan
Di dunia ini.

Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Azhiim

Kamis, 04 Maret 2004

Surat dari Allah SWT

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU,
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu
hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ..
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja ...

AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi
engkau terlalu sibuk ...

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU melihat engkau menggeerakkan kakimu. AKU berfikir engkau
akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang
teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau
merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau
tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa
temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum
menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya....

Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara
kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan
banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak
waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya
menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati
makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU...

Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a,
pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya .. engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan
penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ....
Tapi yang KU tunggu ....tak kunjung tiba .. tak juga kau menyapaKU.
Subuh .... Dzuhur... Ashyar .... Magrib.... Isya dan Subuh kembali,
kau masih mengacuhkan AKU ... tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a,
dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU....

Apa salahKU padamu .. wahai UmmatKU?????
Rizki yangKU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan,
makanan yangKU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan,
apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada KU....!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat
engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU ..
Yang selalu menyertaimu setiap saat .... Allah SWT.

Note:
apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada
orang lain yang kau sayangi???
Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang
kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

=====
salam hangat,
H.Hernawan

Sabtu, 28 Februari 2004

Celaka Karena Dua Lubang

"Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang
ke dalam surga, lalu beliau menjawab, 'Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.'
Beliau juga ditanya tentang perkara yang paling banyak mengantarkan
orang masuk ke neraka, beliau menjawab, 'Mulut dan kemaluan.'" (HR Tirmidzi)
(Hidayatullah)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: "Rasulullah bersabda : "Siapa saja
yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan
kepadanya." (HR. Bukhari)

Jumat, 20 Februari 2004

TEKA-TEKI

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya Teka-Teki : Imam Al-Ghazali : "Apakah yang paling dekat dengan
diri kita di dunia ini ?"
Murid 1 : "Orang tua"
Murid 2 : "Guru"
Murid 3 : "Teman"
Murid 4 : "Kaum Kerabat"
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan
kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti
akan mati (Surah Ali-Imran:185).

Imam Ghazali : "Apa yang paling jauh dengan kita di dunia ini ?"
Murid 1 : "Negeri Cina"
Murid 2 : "Bulan"
Murid 3 : "Matahari"
Murid 4 : "Bintang-bintang" Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar,
tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun
kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa lalu. Oleh
sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari2 yang akan
datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".

Imam Ghazali : "Apa yang paling besar di dunia ini ?"
Murid 1 : "Gunung"
Murid 2 : "Matahari"
Murid 3 : "Bumi"
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling besar sekali
adalah HAWA NAFSU (Surah Al-A'raf : 179). Maka kita harus hati2 dengan
nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa kita ke neraka. (Na'udzu
billaahi minzaalikh).

Imam Ghazali : "Apa yang paling berat di dunia ini ?"
Murid 1 : "Baja"
Murid 2 : "Besi"
Murid 3 : "Gajah"
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling berat adalah
MEMEGANG AMANAH (Surah : Al-Ahzab : 72). Tumbuh2an, binatang, gunung dan
malaikat semua tidak mampu ketika Allah Swt meminta mereka menjadi
khalifah (pemimpin) di dunia ini, tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah Swt sehingga banyak manusia
masuk ke neraka karena gagal memegang amanah".

Imam Ghazali : "Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 "Kapas"
Murid 2 "Angin"
Murid 3 "Debu"
Murid 4 "Daun-daun"
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling ringan sekali
di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara2 pekerjaan kita atau urusan
dunia, kita tinggalkan sholat".

Imam Ghazali : "Apa yang paling tajam sekali di dunia ini ?" Murid2 dengan
serentak menjawab : "Pedang" Imam Ghazali : "Itu benar, tapi yang paling
tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA.
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai
perasaan saudaranya sendiri".

SHADAQAH

jangan pernah takut jatuh miskin atau kekuranag uang karena
membelanjakan
harta di jalan Allah ataupun meminjami sesuatu yang baik kepada Sang
Maha
Kaya dengan tulus ikhlas hatimu, karena sesunggunya itu semua akan
dikembalikan-Nya kepada kita semua dengan jumlah yang berlipat ganda dan
dari arah yang tidak pernah kita duga, bahkan oleh nalar pikirmu
sekalipun

DUNIA
bekerja keraslah kamu dengan jalan yang halal seolah kamu hidup
selamanya,
agar kamu terhindar dari kefakiran. sesungguhnya fakir itu cenderung
kepada
kekufuran

TERBESAR
sodaqah terbesar : memberi nafkah kepada keluarga
jihad terbesar : melawan diri dan hawa nafsu
dzikir terbesar adalah dzikir didepan godaan syetan dan apa-apa yang
diharamkan oleh - Nya

Kamis, 19 Februari 2004

KATAKANLAH SEKARANG

Seorang penulis tak dikenal telah menuliskan kata-kata yang menggugah pikiran sebagai berikut:

Lebih baik kumiliki setangkai mawar mungil
Dari kebun seorang sahabat
Daripada memiliki bunga-bunga pilihan
Ketika hidupku di dunia harus berakhir.

Lebih baik mendengar kata-kata yang menyenangkan
Yang disampaikan dengan kebaikan kepadaku
Daripada pujian saat jantungku berhenti berdetak,
Dan hidupku berakhir.

Lebih baik kumiliki senyum penuh kasih
Dari sahabat-sahabat sejatiku
Daripada air mata di sekeliling peti jenazahku
Ketika pada dunia ini kuucapkan selamat tinggal.

Bawakan aku semua bungamu hari ini,
Entah merah muda, putih, atau merah;
Lebih baik kumiliki setangkai yang mekar saat ini
Daripada satu truk penuh ketika aku meninggal.

Mengingat hal-hal yang baik tentang kawan atau sanak keluarga yang telah meninggal pada upacara pemakaman mereka merupakan hal yang tepat, tetapi memberi pujian yang tulus ketika mereka masih hidup adalah jauh lebih baik.
Pujian itu mungkin merupakan peneguhan yang sangat mereka butuhkan.

Apakah Anda berutang ucapan terima kasih atau penghargaan kepada seseorang?


TAK PERNAH TERLALU AWAL UNTUK MENGUCAPKAN KATA-KATA YANG BAIK
SEBAB ANDA TIDAK TAHU SEBERAPA CEPAT ITU AKAN JADI TERLAMBAT.