Senin, 30 Maret 2015

TANGGUNG JAWAB PRIA DAN WANITA DALAM ISLAM

Betapa beratnya menjadi seorang lelaki, diantaranya adalah seperti berikut: 

1. Lelaki bujangan menanggung dosa sendiri apabila sudah baligh, sementara dosa anak gadis ditanggung oleh bapaknya.

2. Lelaki yang sudah berumah tangga menanggung dosa sendiri, dosa isteri, dosa anak perempuan yang belum pernah kawin dan dosa anak lelaki yang belum baligh.

3. Hukum menjelaskan anak lelaki bertanggung-jawab atas ibunya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya, maka dosa baginya, terutama anak lelaki yang tua, tetapi perempuan tidak, perempuan hanya perlu taat kepada suaminya. Isteri berbuat baik kepadanya diberikan pahala kalau berbuat sebaliknya dosanya ditanggung oleh suaminya.

4. Suami wajib memberikan nafkah pada isteri, tapi isteri tidak. Walaupun begitu isteri boleh membantu.Haram bagi suami bertanya pendapatan isteri, lebih-lebih lagi menggunakan pendapatan isteri tanpa izin.

Banyak lagi… Bayangkan betapa beratnya dosa-dosa yang harus ditanggung seperti gunung dengan semut. Itu sebabnya mengikut kalau kita kaji nyawa perempuan lebih panjang daripada lelaki. Lelaki mati cepat karena tak kuat dengan beratnya dosa-dosa yang ditanggung.Tetapi seorang lelaki ada keistimewaannya yang dianugerah oleh Allah SWT. Sebagai seorang lelaki pasti anda tahu, kalau tak tahu makanya jadi perempuan. Begitulah kira-kiranya.

Wanita : 

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.

2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

3. Wanita kesaksianya kurang dibanding lelaki.

4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.

5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

6. Wanita wajib taat kepada suaminya.

7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.

8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Pernahkah kita lihat sebaliknya?

Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

Bukankah ibu adalah seorang wanita? Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan bila wafat kerana melahirkan adalah mati syahid. Manakala dosanya dosa kecil,dosanya diampun ALLAH.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini; Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Manakala seorang wanita ditanggung oleh 4 orang lelaki ini; Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya. Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengann 4 syarat saja: - Shalat 5 waktu, - Puasa di bulan Ramadhan, - Taat pada suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah, tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH… Lihat betapa sayangnya ALLAH pada wanitakan? Sememangnya derajat Wanita dimuliakan dalam Islam.

FOLLOW TWITTER: @kutipanHIKMAH

Rabu, 25 Maret 2015

Pantun Zaman Batu

Oleh: Taufiq Ismail. Inilah pantun-pantun zaman batu, Pantun untuk mereka yang berkepala batu. Lihatlah siluman dan preman bersatu, Mencuri anggaran dengan bersekutu. Semua mabuk batu akik batu bacan Yang bawa senapan matanya mendelik cari sasaran. Hati-hatilah wahai kalian para cendekiawan. Hanya karena berpikir waras bisa dikriminalkan. Tawuran, biasanya hujannya hujan batu Tawaran, biasanya uangnya uang dolar Jika akhirnya polisi dan koruptor bersatu Harus dilawan biarpun pangkatnya Jenderal. Hujan emas di negeri orang Panen rejeki hatinya girang. Presiden bilang kriminalisasi dilarang, Tapi bawahannya tetap membangkang. Hujan akik di negeri sendiri, Hidup tercekik sudah menjadi ciri. Presiden mimpi jadi bangsa mandiri, Eh, import komoditi tetap jadi mainan menteri. Hakim jujur bisa kehilangan palu, Hakim lucu dengkulnya berotak batu. Jika koruptor ketawa-ketiwi tak lagi punya malu, Alumni perguruan tinggi harus mengganyang dan bersatu. (Taufik Ismail )

Asuransi terbaik

Ditulis oleh Budi Ashari

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu." (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

"Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta'ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta'ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya."

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

"Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun."

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

"Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A'lam

Ayat yang kedua,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

"Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (Qs. Al A'raf: 196)

Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka."

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, "Dudukkan saya!"

Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, "Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah." (Umar ibn Abdil Aziz Ma'alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

Saya simpulkan asuransi terbaik adalah keshalihan baik keshalihan diri & anak2 qt, jg keberkahan harta yg qt miliki.

Semoga semakin bertumbuh dan istiqomah keshalihan untuk qt & anak keturunan qt. Serta diberikan keberkahan dlm harta, daya dan upaya dlm kehidupan. Aamiin YRA

Senin, 02 Maret 2015

Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya… Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya… Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut… Dokter itu memulai ceritanya ?dengan mengatakan : "Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya… Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan. Pemuda itu menjawab : "Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir" Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : "Siapa yang merawatnya?" Ia menjawab : "Aku" Aku bertanya lagi : "Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?" Ia menjawab : "Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya" Aku bertanya : "Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?" Ia menjawab : "Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku" Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar.. Aku pun bertanya : "Apakah engkau sudah beristri?" Ia menjawab : "Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak" Aku berkomentar : "Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?" Ia menjawab : "Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya" Aku Tanya : "Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?" Ia menjawab : "Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya" Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku… Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih. Aku bertanya lagi : "Siapa yang memotong kuku-kukunya?" Ia menjawab : "Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa" Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : "Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?" Ia menjawab : "Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai" Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : "Sekarang…sekarang!" Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : "Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…" Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya. Lalu aku bertanya lagi : "Apakah Anda punya saudara?" Ia menjawab : "Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka" Aku bertanya : "Jadi Anda dirawat ayah?" Ia menjawab : "Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun" Aku bertanya : "Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?" Ia menjawab : "Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun" Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya… Ia memegang tangan ibunya dan berkata : "Mari kita ke kedai.." Ibunya menjawab : "Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!" Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut… Maka aku bertanya padanya : "Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?" Ibu itu menjawab dengan girang : "Agar aku bisa naik pesawat!" Aku pun bertanya pada putranya : "Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?" Ia menjawab : "Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini" Aku katakan pada pemuda itu : "Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?" Ia menjawab : "Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya". Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku. Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku . alasan aku ingin istirahat… Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru… Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku… Aku berkata dalam diriku : "Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya… Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu… Ibunya tidak pernah merawatnya… Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang… Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil… Tidak pernah begadang malam… Tidak pernah mengajarinya… Tidak pernah sedih karenanya… Tidak pernah menangis untuknya… Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya… Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya… Tidak pernah….dan tidak pernah…! Walaupun demikian…pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu". Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat…. seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???. Sumber : di ketik ulang dari Majalah Qiblati edisi 03 Thn. IX dalam rubrik Kisah