Rabu, 11 April 2018

Menunjukkan kebaikan

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, "Hadits ini jelas menunjukkan anjuran dan disukainya memberikan contoh perkara-perkara yang baik dan haramnya memberikan contoh perkara-perkara yang buruk.

Orang yang memberi teladan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Dan orang yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Begitu juga orang yang mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa pengikutnya.

"Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu." [An-Nahl/16 :25].

Akankah sejarah terulang

"Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas."(Al-A'raf: 81).

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi"(Hud: 82).

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (Al-Ankabut: 14).

Balasan berupa azab yang ditimpakan Allah kepada kaum terdahulu, mengingatkan manusia yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi ini. Kerusakan yang terlihat maupun kerusakan yang lebih fatal yaitu perbuatan syirk dan maksiat.

"Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang  kepada mereka, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim"
.Aamiin.

Merasa diawasi

Murâqabah ini merupakan hasil dari pengetahuan seseorang yang dengannya dia meyakini bahwa Allâh Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mengawasi, melihat, mendengar dan mengetahui semua sepak terjangnya setiap saat, setiap tarikan nafas dan setiap kedipan mata.

Allâh menyertai kalian dimanapun kalian berada.
(Al-Hadîd:4)

Sesungguhnya engkau senantiasa berada dalam pengawasan mata Kami.
(Ath-Thûr: 48)

AllâhMaha mengetahui mata yang berkhianat dan Maha mengetahui apa yang disembunyikan  oleh dada.
(Ghâfir:19)

apabila engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allâh melihatmu.
(HR. Al-Bukhâri dari Abu Hurairah).

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menegaskan, semakin kuat murâqabah seseorang, maka akan semakin menimbulkan rasa malu, rasa tenang, rasa cinta, tunduk, khusyu', takut dan pengharapan yang besar kepada Allâh. Ini tidak akan diperoleh jika tidak ada muraqabah, rasa selalu diawasi oleh Allâh Ta'ala.

Mengingkari kemungkaran

_"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (kebaikan), dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."_ (Ali Imron: 110)

_"Dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, lalu bersabarlah terhadap apa yang akan menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)."_ (Luqman: 17).

Mengingkari kemunkaran boleh dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan/ kekuasaan terhadap orang yang berada di bawahnya dan bukan sembarang orang boleh merubah dengan tangannya.

Apabila seseorang bukan tergolong orang yang berhak merubah kemungkaran dengan tangannya, maka kewajiban ini beralih dengan menggunakan lisan yang memang mampu dilakukannya.

Kalau pun untuk itu tidak sanggup, maka dia tetap berkewajiban untuk merubahnya dengan hati dan inilah selemah-lemah iman. Merubah kemungkaran dengan hati adalah dengan cara membenci kemungkaran tersebut.

Menjerat Waktumu

Jika media sosial dijadikan sebagai sarana komunikasi,  alangkah baiknya jika kita menggunakan media sosial dengan bijak dan tepat sesuai porsinya.

Jangan sampai berlebih-lebihan dalam menggunakannya, karena Allah Ta'ala tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan. Apalagi sampai melupakan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah. Juga menjadi sebab terhalangnya kita dari mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala.

Pertimbangkan dengan bijak akibatnya apa yang ditulis/diucapkan/gambar atau video yang ditayangkan jangan sampai merugikan kita di hari perhitungan kelak.
_​"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."​_ (Qaaf: 18).

Imam Nawawi rahimhullah berkata:
Diriwayatkan dari Dzin Nun rahimahullah, ia berkata: ​ _"Seorang yang paling menjaga dirinya diantara manusia adalah yang paling menjaga lisannya."​_

_​…. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.​ (Al-Ahzab : 52)._

KAU TAHU SIAPA ISTRIKU


Ada sebuah kisah, ketika seorang suami menangis kepada sahabatnya.

Sahabatnya itu pun bertanya, "Kenapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini?"

Sang suami menjawab, "Istriku sedang sakit demam"

Sahabatnya bertanya lagi,

"Sebegitu cintanyakah kau?Sehingga istri sakit demam saja sampai menangis sangat dlm seperti ini?

Sang suami menjawab, "Kau tahu siapa istriku?". 

Lalu sang suami menceritakan pada sahabatnya, Aku ini miskin, tdk punya pekerjaan tetap & setiap hari keluargaku hanya makan dngn kacang,itu pun jika aku pulang.

Jika aku tak pulang karena blm mendapat apa2 untuk dimakan, paling istriku hanya minum air atau berpuasa.

Suatu hari keluarga mertuaku mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya, kebetulan istriku berasal dari keluarga kaya.

Saat aku duduk berkumpul bersama mertuaku & keluarga yang lain di meja makan dengan hidangan yang mewah, aku tidak menemukan istriku.

Lalu aku bertanya kepada ibu mertuaku, "Dimanakah dia ibu?".

Ibu mertuaku menjawab, "Istrimu sedang di dapur, dia mencari kacang.....Katanya dia sudah bosan dngn hidangan lauk & daging, sehingga dia sangat ingin makan kacang"

Ketika mendengar itu ayah mertuaku langsung memelukku sambil berkata,

"Terima kasih menantuku kau telah mencukupi nafkah anakku dngn baik, sampai2 dia bosan makan daging & malah ingin mencoba makan kacang."

Saat itu dadaku tersesak, menahan tangis.

Lalu saat pulang ke rumah kami aku tak bisa lagi menahan tangis, sambil ku peluk erat istriku,

"Betapa engkau sangat menjaga kehormatanku di hadapan orang lain wahai istriku walau pun itu orang tuamu sendiri, sedangkan aku tahu setiap hari kau hidup kekurangan disini, bahkan sampai tdk makan sama sekali."

Istriku hanya menjawab, 

"Aku berkewajiban menjaga kehormatanmu, Karena istri adalah pakaian suami & suami adalah pakaian istri. Karena itu istri adalah kehormatan suaminya, begitu pun sebaliknya suami adalah kehormatan bagi istrinya".


Semoga para akhwat lain disini dan diluar sana bisa jadi istri seperti kisah ini...
Aamiiiin Ya Rabbal Alaamiiiin..

(WH Magelang)

Hakikat Hidup

Hidup ini pada hakikatnya adalah perjalanan menghadap Allah Ta'ala.
Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit bahkan mungkin tersesat.

_"Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka"_ (Thaha: 123).

_"Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku"_ (HR. Imam Malik).

Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelaskan Al-Quran dan merinci yang global darinya, maka hakikat keduanya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.

Cintai Rasul

Mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaan kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasulullah adalah cinta karena Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengajarkan ummat Islam tentang bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semuanya.

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…" [An-Nisaa': 59]

Oleh karena itu, ummat Islam wajib ittiba' kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar mereka mendapatkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ilmu

_"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,"_ ( al Mujadilah: 11). 

_"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk."_ (QS. Maryam: 76).

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menuntut ilmu syar'i.

Menuntut ilmu adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, Tauhid dan syirik, Sunnah dan bid'ah, yang ma'ruf dan yang munkar, dan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan.

Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pasangan

Berkata Ibn Al Qayyim, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hikmahNya menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya. Secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, dan sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.

Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh, menyebabkan adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian.

_Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih._ (HR Bukhari 7/267 dan Muslim no. 2638).

Niatkan

Semua amal kebaikan yang kita lakukan haruslah diniatkan karena Allah.

Betapa banyak manusia yang melakukan amalan, hanya untuk menggapai dunia, sungguh di akhirat dia akan merugi. *Bahkan jika kita niatkan kepada selain Allah*, _maka amalan kita tertolak dan bahkan bisa menjerumuskan kita dalam kemusyrikan._

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agamanya yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3

```Murnikanlah semua amalan dengan keikhlasan hanya untuk menggapai ridho Allah```.


*The Strangers*

Segera beramal saleh

_"Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu (tidak ikut) lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya, barangsiapa yang larut padanya akan terjebak, maka barangsiapa yang dapat menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan."_ (HR.Bukhari no. 3601 Muslim 2886)

Bersegera beramal kebajikan sebelum datangnya masa fitnah. Ciri masa fitnah tersebut  jika telah datang ditengah kita  adalah dengan banyaknya gangguan lisan (ghibah, fitnah, namimah)  dan tangan (power) sehingga sorang mukmin mudah jatuh dalam kekafiran disebabkan oleh harta dunia, dan dengan mudahnya meninggalkan kebenaran. 

_"Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah."_ (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman).

Amalan Sunnah

_"Sesungguhnya amalan yg pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat adalah shalat. Allah berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yg lebih tahu, "Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna? Jika shalatnya sempurna, akan dicatat baginya pahala sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya." Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini."_ (Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426).

Semakin banyak kita melakukan amalan sunnah maka semakin banyak pula tabungan yang kita siapkan saat yaumul mizan.

_"Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan."_ (Al-Anbiya': 47)

Dzarrah

_"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui"_ (QS. Luqman: 16).

_"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan"_ (QS. Al Anbiya': 47).

_"Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui"_ (QS. Luqman: 16).

Allah akan membalas kejelekan apa pun walau sangat-sangat tersembunyi karena luasnya ilmu Allah dan kesempurnaan kemahatahuan Allah.
Dengan memahami dan merenungkan hal ini, kita akan semakin berhati-hati dalam berbuat. Ingatlah setiap dosa dan kesalahan akan nampak di sisi Allah dan akan dibalas.

Menangis karena Allah

.......... _"Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur'an kepada anda sementara al-Qur'an itu diturunkan kepada anda?"._ Maka beliau menjawab, _"Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku."_ Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa'. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), _*"Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka."*_ (QS. an-Nisaa' : 40). Maka beliau berkata, _*"Cukup, sampai di sini saja." Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata."*_ [HR. Bukhari (4763) dan Muslim (800)].

Tangisilah hati dan jiwa kita yang tidak bisa menampung sedikit saja tetesan keimanan, serta tangisilah badan kita yang kita seret berjalan di muka bumi karena ia hakikatnya telah mati. Semoga dengan menangisi diri kita, Allah berkenan membuka sedikit hidayah kemudian menancapkannya dan bertengger direlung hati hamba yang berjiwa hanif.