Dikisahkan ada seorang manusia yang bertemu dengan
setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya,
akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali
persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang
itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil
tersenyum bergumam,
"Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!"
Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak
mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin,
" Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"
Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu
dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan
mulai terdiam......
Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu
ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai
gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari
wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang
mengingat-ngingat sesuatu. Dan akhirnya ketika
dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan
shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya
tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya
yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan,
"Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"
Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau
ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji
akan menjadi sahabat ?".
"Aku takut !", jawab setan dengan suara gemetar.
"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali
membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak
disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi
engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali
membangkang perintah-Nya. Tidak terbayangkan olehku
bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan
sambil ngeloyor pergi. *
( Kisah diatas diambil dari buku "Tutur bersayap" )
Jumat, 13 Juni 2008
Selasa, 13 Mei 2008
Sang Pemburu Jannah
Bara' bin Malik r.a
Lelaki perkasa ini tidak lain adalah saudara dari Anas bin Malik r.a,
khodim Rasulullah S.a.w. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga
sudah sudah tidak diragukan lagi. Pernah dalam satu perang tanding
beliau berhasil menghabisi seratus jagoan dari kaum kafir. Baginya,
memasuki jannah dengan mati syahid adalah dambaan yang selalu dicarinya,
karena itu sejak perrang Uhud beliau tidak pernah absen menyertai
Rasulullah S.a.w dalam setiap pertempuran.
Ketika Abu Bakar r.a berkuasa, banyak terjadi pembangkangan, antara lain
pembangkangan Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai Nabi. Segera Abu
Bakar memberangkatkan pasukan menggempur pasukan Musailamah yang
tangguh.
Pertempuran antar dua pasukan pun terjadi dengan serunya di Yamamah.
Bara` r.a seperti biasanya segera mengamuk menebas setiap musuh yang
berada didekatnya. Namun kekuatan musuh yang cukup solid hampir membuat
semangat tempur kaum muslimin mengendor. Segera Bara' berteriak dengan
suara yang lantang, " Wahai manusia! Demi Allah, tidak ada lagi bagiku
Madinah..! yang ada hanyalah jannah!".Lalu beliau pukul kudanya melesat
menyerbu ketengah-tengah kumpulan musuh. Melihat hal itu, sontak
semangat kaum muslimin kembali bangkit dan segera menyusul Bara'
menggempur musuh dengan satu tekad, mati menuju jannah. Akibatnya
pasukan Musailamah terdesak dan mundur memasuki benteng pertahanannya.
Untuk membobol pintu benteng, Bara' berinisiatif agar kawan-kawannya
melemparkan dirinya melewati atas benteng kemudian nanti beliau yang
akan membuka pintunya. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Usul
itupun dilaksanakan. Setelah beliau berhasil masuk segera pintu benteng
dibukanya setelah sebelumnya harus menghabisi sepuluh nyawa pasukan
penjaga benteng. Bagaikan air bah pasukan muslimin segera memasuki
benteng dan menghabisi perlawanan Musailamah sang pendusta. Pada
peperangan ini Bara' harus merakan lebih dari 80 luka akibat serangan
lawan.
Kini, Bara' telah berada dalam pertempuran lain, perang dengan pasukan
penyembah api, satu diantaranya adi daya kekafiran saat itu; pasukan
Persia dengan segala perlengkapannya. Perang-pun berkecamuk dengan
dasyatnya, dan pasukan Persi ternyata menunjukkan kelasnya sebagai
pasukan elite. Mereka berhasil mendesak tentara muslimin. Maka
orang-orangpun berkata kepada Bara' bin Malik, " Wahai Bara',
sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda kepadamu, sesungguhnya jika
engkau memohon kepada Allah S.W.T pasti Dia mengabulkan, maka berdo`alah
kepada-Nya untuk kehancuran musuh ".Bara' lalu berdo`a memohon
kehancuran pasukan musuh dan agar dirinya mendapat syahid bertemu dengan
Nabi-nya yang mulia. Allah mengabulkan doa`nya sehingga kaum muslimin
berhasil melumpuhkan lawan, dan Bara' pun memperoleh apa yang selama ini
dicita-citakannya, syahid dijalan Allah. Bara' ...betapa wangi merah
darahmu...kamipun rindu menyusulmu. Wallahu a`lam.
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah dan Rijal Khaula Rasul).
Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Jumat, 18 April 2008
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)?
Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
Selasa, 13 Maret 2007
Utang
Oleh: Mahbubah Aseri
Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu'lu' Al Majusiy
dan beliau mengira bahwa kematian sudah dekat maka beliau memanggil
putranya Abdullah. Kepada anaknya Umar berkata: "Periksalah, berapa
jumlah utang yang harus kubayar?"
Berkata Abdullah: "Maka beliau pun menghitung dan mendapatkan bahwa
hutangnya sejumlah 86.000 dirham" (1 dirham = 2,975 gram perak).
Kemudian beliau berkata: "Apabila keluarga Umar tidak mampu untuk
melunasinya maka mintalah kepada Bani 'Adiy, dan apabila masih belum
cukup juga maka mintalah kepada Quraisy, dan jangan minta kepada
selain mereka".
Demikianlah, potret seorang penguasa yang adil, penakluk dua negara
adidaya ketika itu, Romawi dan Persia. Betapa menakjubkan, beliau
justru memiliki banyak utang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dan
hal itu baru terekspos ketika beliau sudah mendekati ajal. Itulah
bukti betapa Umar sangat menjaga diri dari aji mumpung, memanfaatkan
kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.
Kejadian itu sungguh kontradiktif dengan para penguasa di zaman ini
yang hidup mewah, akan tetapi meninggalkan utang yang banyak bagi
rakyatnya. Kekuasaan yang diberikan tidak ditujukan untuk
menyejahterakan rakyat tetapi rakyatlah yang harus menanggung derita.
Lihatlah hasil pencatatan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara (KPKPN). Para penguasa memiliki aset miliaran. Mereka hidup
bergelimang dolar. Sebaliknya rakyat, untuk memenuhi kebutuhan perut
saja sulit. Ditambah lagi dengan utang negara yang belum tentu bisa
lunas sampai tujuh turunan.
Belum lagi pajak yang mencekik leher, biaya hidup yang semakin
melambung tinggi, fasilitas umum yang jelek, jumlah pengangguran yang
sangat banyak, kejahatan di semua lini dan lain-lain. Padahal
pemilikan umum dan pemilikan negara begitu luar biasa apabila dikelola
untuk kepentingan rakyat. Negeri kita adalah negeri yang sangat kaya
akan sumber daya alam dan manusia. Tetapi rakyat di negeri ini bagai
ayam yang kelaparan di lumbung padi.
Sungguh tercela penguasa yang hanya mementingkan pribadi dan kroninya,
serta menipu rakyatnya, padahal Rasulullah SAW telah bersabda:
"Tidaklah di antara hamba Allah yang diberikanNya kekuasaan dan dia
mati dalam keadaan menipu rakyatnya kecuali Allah mengharamkan atasnya
masuk sorga." (Muttafaq alaih)
Sumber : Harian Republika
Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu'lu' Al Majusiy
dan beliau mengira bahwa kematian sudah dekat maka beliau memanggil
putranya Abdullah. Kepada anaknya Umar berkata: "Periksalah, berapa
jumlah utang yang harus kubayar?"
Berkata Abdullah: "Maka beliau pun menghitung dan mendapatkan bahwa
hutangnya sejumlah 86.000 dirham" (1 dirham = 2,975 gram perak).
Kemudian beliau berkata: "Apabila keluarga Umar tidak mampu untuk
melunasinya maka mintalah kepada Bani 'Adiy, dan apabila masih belum
cukup juga maka mintalah kepada Quraisy, dan jangan minta kepada
selain mereka".
Demikianlah, potret seorang penguasa yang adil, penakluk dua negara
adidaya ketika itu, Romawi dan Persia. Betapa menakjubkan, beliau
justru memiliki banyak utang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dan
hal itu baru terekspos ketika beliau sudah mendekati ajal. Itulah
bukti betapa Umar sangat menjaga diri dari aji mumpung, memanfaatkan
kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.
Kejadian itu sungguh kontradiktif dengan para penguasa di zaman ini
yang hidup mewah, akan tetapi meninggalkan utang yang banyak bagi
rakyatnya. Kekuasaan yang diberikan tidak ditujukan untuk
menyejahterakan rakyat tetapi rakyatlah yang harus menanggung derita.
Lihatlah hasil pencatatan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara (KPKPN). Para penguasa memiliki aset miliaran. Mereka hidup
bergelimang dolar. Sebaliknya rakyat, untuk memenuhi kebutuhan perut
saja sulit. Ditambah lagi dengan utang negara yang belum tentu bisa
lunas sampai tujuh turunan.
Belum lagi pajak yang mencekik leher, biaya hidup yang semakin
melambung tinggi, fasilitas umum yang jelek, jumlah pengangguran yang
sangat banyak, kejahatan di semua lini dan lain-lain. Padahal
pemilikan umum dan pemilikan negara begitu luar biasa apabila dikelola
untuk kepentingan rakyat. Negeri kita adalah negeri yang sangat kaya
akan sumber daya alam dan manusia. Tetapi rakyat di negeri ini bagai
ayam yang kelaparan di lumbung padi.
Sungguh tercela penguasa yang hanya mementingkan pribadi dan kroninya,
serta menipu rakyatnya, padahal Rasulullah SAW telah bersabda:
"Tidaklah di antara hamba Allah yang diberikanNya kekuasaan dan dia
mati dalam keadaan menipu rakyatnya kecuali Allah mengharamkan atasnya
masuk sorga." (Muttafaq alaih)
Sumber : Harian Republika
Senin, 13 Maret 2006
SYARAT MENJADI GURU
- Kasih sayang kepada para pelajar, dan mendudukkan mereka sebagaimana anak sendiri
- Mengikuti jejak guru / sesepuh sebelumnya
- Senantiasa memberi nasihat dan petuah kepada sang pelajar
- Sang guru dalam memperbaiki ahlak dan sifat-sifat buruk si murid, sebaiknya dilakukan secara sindiran dan penuh kasih sayang
- Guru pengajar satu aliran, janganlah melecehkan aliran yang lain di hadapan sang pelajar
- Guru harus dapat mengintisarikan materi pelajaran menurut kesanggupasn sang pelajar
- Kepada pelajar yang daya serapnya lemah, hendaklah guru menyampaikan pelajaran dengan sangat detail, serta tidak melontarkan statemen bahwa di balik yang telah dijelaskannya itu masih ada penjelasan yang lebih mendalam, yang disimpan dulu.
- Sang guru seharusnya menjadi orang pertama yang mengamalkan semua ilmunya. Janganlah perbuatannya itu membohongi kata-kata manisnya
- Kegembiraan itu memerlukan rasa aman, Harta itu membutuhkan sedekah, Kedudukan itu membutuhkan dukungan, Kemuliaan itu membutuhkan kerendahan hati
- Orang bahagia adalah yang bisa melupakan sesuatu yang tidak mungkin lagi diperbaiki, yang selalu ingat kebaikan orang lain dan melupakan keburukan mereka.
- Kebahagiaan itu terdapat pada pengorbanan; menahan keinginan pribadi; pencurahan segala upaya dan mencegah semua bahaya; serta jauh dari sifat egoisme dan balas dendam.
- Jika anda ingin merasakan kebahagiaan bersama orang lain, maka perlakukanlah mereka dengan cara yang sama yang anda sukai ketika mereka memperlakukanmu. Jangan meremehkan milik mereka dan jangan pula merendahkan kemampuan mereka.
Kamis, 11 Maret 2004
DOA ORANG TUA
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
Atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
Jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
perkenan-Mu,
ya Allah
Sebab, hanya Engkaulah
Yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan
berlipat
ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
Sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
Di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,
Ampunan-Mu serta
Rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
Yang memiliki Karunia Maha Agung,
Serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
**********************************************
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa
Karena kedurhakaan kita,
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya,
Airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat
orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya,
atau
Yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya
didahulukan
Di dunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Azhiim
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
Atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
Jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
perkenan-Mu,
ya Allah
Sebab, hanya Engkaulah
Yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan
berlipat
ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
Sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
Di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,
Ampunan-Mu serta
Rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
Yang memiliki Karunia Maha Agung,
Serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
**********************************************
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa
Karena kedurhakaan kita,
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya,
Airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat
orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya,
atau
Yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya
didahulukan
Di dunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Azhiim
Kamis, 04 Maret 2004
Surat dari Allah SWT
Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU,
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu
hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ..
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja ...
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi
engkau terlalu sibuk ...
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU melihat engkau menggeerakkan kakimu. AKU berfikir engkau
akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang
teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau
merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau
tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa
temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum
menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya....
Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara
kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan
banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak
waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya
menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati
makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU...
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a,
pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya .. engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan
penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ....
Tapi yang KU tunggu ....tak kunjung tiba .. tak juga kau menyapaKU.
Subuh .... Dzuhur... Ashyar .... Magrib.... Isya dan Subuh kembali,
kau masih mengacuhkan AKU ... tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a,
dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU....
Apa salahKU padamu .. wahai UmmatKU?????
Rizki yangKU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan,
makanan yangKU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan,
apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada KU....!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat
engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU ..
Yang selalu menyertaimu setiap saat .... Allah SWT.
Note:
apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada
orang lain yang kau sayangi???
Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang
kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
=====
salam hangat,
H.Hernawan
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu
hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ..
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja ...
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi
engkau terlalu sibuk ...
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU melihat engkau menggeerakkan kakimu. AKU berfikir engkau
akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang
teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau
merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau
tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa
temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum
menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya....
Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara
kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan
banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak
waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya
menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati
makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU...
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a,
pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya .. engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan
penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ....
Tapi yang KU tunggu ....tak kunjung tiba .. tak juga kau menyapaKU.
Subuh .... Dzuhur... Ashyar .... Magrib.... Isya dan Subuh kembali,
kau masih mengacuhkan AKU ... tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a,
dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU....
Apa salahKU padamu .. wahai UmmatKU?????
Rizki yangKU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan,
makanan yangKU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan,
apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada KU....!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat
engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU ..
Yang selalu menyertaimu setiap saat .... Allah SWT.
Note:
apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada
orang lain yang kau sayangi???
Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang
kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
=====
salam hangat,
H.Hernawan
Langganan:
Postingan (Atom)